Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII telah menyelenggarakan kegiatan kunjungan industri ke PT. Sukuntex di Kudus, Jawa Tengah, pada Sabtu, 27 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti sedikitnya 36 mahasiswa aktif angkatan 2023, 2024, dan 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap proses industri tekstil secara langsung. Selama kunjungan, mahasiswa berkesempatan mengamati alur produksi mulai dari pengolahan bahan baku, proses pemintalan (spinning) dan pertenunan (weaving), hingga pengendalian kualitas kain. Interaksi langsung dengan praktisi industri memberikan pengalaman kontekstual yang mempertemukan teori perkuliahan dengan praktik di lapangan, sekaligus memperkenalkan standar profesional yang diterapkan di industri tekstil modern.

Dalam sambutannya, Siti Muthoharoh selaku perwakilan HRD PT. Sukuntex menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada PT. Sukuntex sebagai tempat belajar bagi mahasiswa. Beliau menegaskan bahwa industri terbuka untuk berbagi pengetahuan demi mendukung pengembangan sumber daya manusia di bidang tekstil, terlebih PT. Sukuntex merupakan perusahaan karya anak negeri. Sementara itu, Ahmad Satria Budiman selaku dosen pendamping menyampaikan bahwa kunjungan industri ini bertujuan untuk menjembatani observasi antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik nyata di industri. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang kerja sama lanjutan, seperti program magang atau kerja praktik (KP) bagi mahasiswa Rekayasa Tekstil UII.

Sambutan Rombongan Rekayasa Tekstil UII di PT. Sukuntex (27/12/25)

Larisa Fadella Rahmatulhusna (2023) menyampaikan bahwa kunjungan industri ini memberikan kesan yang sangat baik dan berkesan baginya. Ia menilai para pegawai PT. Sukuntex ramah, komunikatif, serta terbuka dalam menjelaskan proses kerja, didukung kondisi pabrik yang bersih dan tertata rapi sehingga mencerminkan profesionalisme industri. Ia juga memperoleh wawasan baru tentang proses pengecekan cacat kain pada arah lusi dan pakan menggunakan meja lampu, yang memperlihatkan secara nyata penerapan teori pengendalian kualitas yang dipelajari di kelas. Menurutnya, kunjungan ini memperluas pandangan tentang cakupan industri tekstil dan relevansi ilmu Rekayasa Tekstil dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus membuka gambaran peluang karier di berbagai sektor industri.

Muhammad Dzikra Falah (2024) mengungkapkan bahwa kunjungan ke PT. Sukuntex memberinya banyak wawasan baru mengenai struktur dan skala perusahaan, yang memiliki tiga unit utama terintegrasi, yaitu pemintalan, pertenunan, dan finishing, serta berada dalam naungan Sukun Group yang juga bergerak di sektor rokok, transportasi, dan percetakan. Ia memahami penerapan teknologi industri seperti mesin Air Jet Loom (AJL), sistem persiapan serat menggunakan Cotton Bale Opener dan TSS, proses penganjian (sizing) benang lusi, hingga penggunaan mesin tenun modern Picanol. Selain itu, ia juga mengamati sistem inspecting dan looping, direct warping, serta proses produksi berkecepatan tinggi yang menunjukkan bagaimana integrasi mesin dan kontrol kualitas diterapkan dalam skala besar. Pengalaman tersebut memperjelas baginya bahwa teori yang dipelajari di kelas memiliki penerapan langsung dalam industri tekstil modern.

Pengendalian Kualitas Proses Produksi di PT. Sukuntex (27/12/25)

Nasywa Jiilaan Sobari (2025) menyatakan bahwa sebagai mahasiswa baru Rekayasa Tekstil FTI UII, ia merasa beruntung mendapatkan kesempatan untuk berkunjung langsung ke industri tekstil. Pengalaman pertamanya ini memberinya kesempatan melihat secara nyata proses produksi yang sebelumnya baru dipelajari di perkuliahan. Meskipun masih cukup kesulitan membedakan berbagai istilah dalam dunia industri tekstil, kunjungan tersebut memberinya banyak pengetahuan baru serta gambaran nyata tentang pekerjaan di lapangan. Menurutnya, industri tekstil memiliki cakupan luas dan prospektif di masa depan, dan pembelajaran di Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII menjadi pintu masuk penting bagi siapa pun yang ingin mempelajari dan mengembangkan teknologi tekstil di dunia industri. (ASB)

Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII telah menyelenggarakan kegiatan pembekalan mahasiswa dan calon lulusan pada Ahad, 30 November 2025, di Auditorium FTI UII. Kegiatan tersebut mengangkat tema Start Strong, Shine Bright: Bekal Adaptif, Percaya Diri, dan Siap Berkarya untuk Mahasiswa dan Calon Lulusan Rekateks. Hadir sebagai narasumber adalah Yulia Zahrotun Ni’mah, S.T. yang merupakan alumni Rekateks 2020 dengan karir sebagai Textile Designer Staff di PT. Golden Tekstil Indonesia, serta Erik Hadi Saputra, S.Kom., M.Eng. yang merupakan Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Amikom Yogyakarta yang juga seorang motivator. Meski dilaksanakan di hari libur akhir pekan, acara berlangsung hangat dan interaktif dengan dihadiri mahasiswa Rekateks seluruh angkatan dan mahasiswa Rekateks yang baru saja melaksanakan ujian pendadaran.

Dalam sambutannya, Dr.Eng. Rina Afiani Rebia, S.Hut., M.Eng. selaku selaku Ketua Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII menyampaikan bahwa pembekalan ini merupakan agenda rutin yang idealnya dilaksanakan setiap jelang wisuda. Akan tetapi supaya lebih efektif dan efisien, pelaksanaannya satu kali setahun untuk semua mahasiswa. “Pada kesempatan ini, alhamdulillah kita sudah ada lulusan yang siap berbagi ilmu dan pengalamannya kepada kita semua tentang dunia kerja tekstil yang sesungguhnya seperti apa,” kata Bu Rina. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memulai perjalanan akademik dengan langkah yang kuat (start strong) sekaligus membangun rekam jejak prestasi dan karya yang membanggakan (shine bright). Momentum ini menjadi strategi penguatan kapasitas mahasiswa untuk menjadi lulusan yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing global.

Penyampaian Materi Pembekalan Mahasiswa Narasumber 1 (30/11/25)

Selanjutnya dengan topik “Adaptif dan Profesional di Dunia Kerja: Menjadi Engineer Tekstil yang Terus Bertumbuh”, Kak Yulia menekankan pentingnya kesiapan karier melalui tiga pilar utama, yaitu adaptif, percaya diri, dan siap berkarya. Adaptif artinya mau belajar dan bertumbuh, percaya diri maksudnya bukan sok tahu dan sok paham tetapi mau bekerja, sedangkan siap berkarya bukan berarti harus nomor satu atau membuat penemuan besar, melainkan membuat dan mengembangkan hal baru. “Percaya diri itu tidak datang dari lahir, tetapi dilatih,” tambah Kak Yulia. Mahasiswa yang pernah lolos pendanaan PKM tahun 2023 itu menguraikan bahwa textile engineer harus menguasai hard skill seperti kompetensi teknik dasar, teknologi produksi, pemahaman sustainability, standar mutu, serta keselamatan kerja, sekaligus soft skill seperti komunikasi, problem solving, manajemen waktu, adaptabilitas, dan kepercayaan diri. Selain itu, Yulia menegaskan pentingnya growth mindset, yaitu belajar dari kesalahan, menerima umpan balik, berani mencoba hal baru, dan mengelilingi diri dengan lingkungan yang suka belajar.

Kemudian dengan topik “Percaya Diri Menapaki Karier: Menjadi Lulusan Tekstil yang Tangguh di Tantangan Industri”, Pak Erik menegaskan pentingnya kesiapan mental, komunikasi efektif, dan orientasi hidup sebagai fondasi memasuki dunia profesional, dengan menyoroti bahwa seseorang harus memahami tujuan bekerja untuk menjaga semangat dan daya juang. Dengan gaya yang energik, beliau mengangkat tema motivasi karier melalui sudut pandang karakter dan makna bekerja. “Kita harus tahu sebenarnya apa yang sedang kita cari saat bekerja,” pesan Pak Erik. Pola pikir dan perspektif diri kita perlu diubah dari negatif menjadi lebih positif dengan senantiasa belajar menata diri, berkembang, hingga menemukan landasan religius sebagai sumber ketahanan mental. Melalui pendekatan tersebut, Pak Erik mengajak mahasiswa Rekateks untuk melihat karier bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan ruang kebermaknaan, yaitu tempat seseorang bertumbuh, memberi manfaat, dan menjalani peran hidupnya dengan sepenuh hati.

Penyampaian Materi Pembekalan Mahasiswa Narasumber 2 (30/11/25)

Pada sesi diskusi, Kak Yulia menyampaikan bahwa relevansi mata kuliah bergantung pada bidang pekerjaan lulusan. “Kalau saya dan teman-teman seangkatan, mata kuliah wajib tentang serat tekstil itu fundamental karena semua industri butuh basis ini. Selain itu, manufaktur aparel sebagai mata kuliah pilihan juga penting terutama bagi yang bergerak di bagian produksi,” ujarnya. Pada akhirnya, pembekalan ini tidak sekadar menjadi ajang motivasi, tetapi juga sarana mempertegas komitmen Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja, adaptif, dan percaya diri menghadapi persaingan industri. (ASB)