Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII menerima kunjungan peserta Pelatihan Capacity Building Millennial Batik Revolution 2026 pada Rabu, 08 Juli 2026, di Ruang Learning Space 2 dan Laboratorium Manufaktur dan Pengujian Tekstil FTI UII. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY bekerja sama dengan Bank Indonesia DIY ini diikuti oleh 25 perajin batik sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas, kreativitas, dan inovasi generasi muda di bidang batik. Pada kesempatan tersebut, peserta memperoleh pembekalan mengenai pengenalan serat tekstil, pengujian mutu tekstil, serta demonstrasi pengujian laboratorium yang relevan dengan produk batik.
Dalam sambutannya, Dr. Ir. Muhammad Khafidh, S.T., M.T., IPP. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Rekognisi FTI UII menyampaikan apresiasi kepada Dekranasda DIY dan Bank Indonesia DIY atas kepercayaan yang diberikan kepada FTI UII sebagai mitra dalam kegiatan peningkatan kapasitas perajin batik muda. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat dan industri melalui kegiatan edukasi, riset, maupun pengabdian. Melalui kolaborasi seperti ini, diharapkan inovasi di bidang tekstil dan batik dapat terus berkembang. Sementara itu, Lia Mustafa selaku Koordinator Bidang SDM dan Vokasi Dekranasda DIY menyampaikan bahwa industri batik saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kreatif dalam menghasilkan desain dan produk, tetapi juga memahami kualitas material yang digunakan.

Pembekalan Materi Serat Tekstil (08/07/26)
Pada sesi materi pertama, peserta dikenalkan dengan berbagai jenis serat tekstil yang umum digunakan pada kain batik beserta karakteristiknya oleh Dr.Eng. Rina Afiani Rebia, S.Hut., M.Eng. selaku Dosen sekaligus Ketua Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII. Jenis serat menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi kenyamanan, tampilan, serta kemampuan kain dalam menerima zat warna. Peserta diperkenalkan dengan serat alam dan serat buatan yang banyak digunakan sebagai bahan tekstil, termasuk karakteristik serat kapas yang umum digunakan dalam pembuatan batik karena memiliki daya serap yang baik. “Pemilihan jenis serat dan kain perlu disesuaikan dengan tujuan penggunaan produk karena setiap serat memiliki sifat dan respons yang berbeda terhadap proses pewarnaan maupun perlakuan tekstil,” tutur Bu Rina. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu peserta dalam memilih bahan baku yang sesuai untuk menghasilkan produk batik yang nyaman, berkualitas, dan memiliki nilai jual.
Pada sesi materi kedua, peserta dijelaskan mengenai pentingnya pengujian tekstil sebagai bagian dari pengendalian mutu produk batik oleh Ahmad Satria Budiman, S.T., M.Sc. selaku Dosen Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII sekaligus Kepala Laboratorium Manufaktur dan Pengujian Tekstil FTI UII. Ketika ditanyakan alasan mengapa kain batik perlu diuji, beberapa peserta memberikan jawaban untuk mengetahui daya tahan luntur warna dan kesesuaian jenis serat pada kain batik. “Pengujian material tekstil meliputi cara fisika dan cara kimia, adapun untuk cara fisika seperti konstruksi kain, sedangkan cara kimia antara lain identifikasi serat dan ketahanan luntur warna,” terang Pak Budi. Peserta juga diperkenalkan dengan layanan Laboratorium Manufaktur dan Pengujian Tekstil FTI UII yang menyediakan berbagai pengujian karakterisasi material tekstil untuk mendukung kebutuhan industri dan masyarakat.

Foto Bersama Usai Pembekalan (08/07/26)
Kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi beberapa peralatan laboratorium, di antaranya pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan. Peserta tampak antusias mengamati setiap tahapan pengujian sekaligus banyak berdiskusi mengenai penerapannya dalam menjaga dan meningkatkan mutu produk batik. Melalui partisipasi dalam Capacity Building Millennial Batik Revolution 2026, Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan industri batik nasional melalui pendidikan, penelitian, dan layanan laboratorium. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku industri diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang inovatif, adaptif, serta berdaya saing dalam mengembangkan batik Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan. (ASB)




















