Dalam rangka merayakan Hari Batik Nasional, memperluas kerjasama bersama mitra, dan mengembangkan potensi tekstil yang ada di Indonesia, Program Studi S1 Rekayasa Tekstil, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), bekerja sama dengan Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) menyelenggarakan pelatihan ecoprint bagi masyarakat umum. Pelatihan tersebut berlangsung pada hari Jum’at tanggal 21 Oktober 2022, bertempat di Laboratorium Rekayasa Tekstil, Gedung K.H.A. Wahid Hasyim, Kampus UII Terpadu.

Peserta Pelatihan Ecoprint Menata Dedaunan di Atas Kain (21/10/22)

Pelatihan ini diikuti oleh sedikitnya 30 peserta, baik dari Yogyakarta maupun luar Yogyakarta, seperti dari Surakarta dan Purwokerto. Latar belakang peserta beragam, ada mahasiswa, guru, pegawai swasta, kelompok wiraswasta, dan ibu rumah tangga. Bertindak selaku pemateri pelatihan adalah Ibu Ir. Sri Herlina, M.Si. dari Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya, Yogyakarta. Pelatihan dimulai dengan sesi penyampaian modul oleh Bu Herlina dan dilanjutkan sesi praktik langsung oleh peserta didampingi sejumlah fasilitator.

Jenis kain yang digunakan untuk pelatihan ada yang diberi warna dan tidak diberi warna. Untuk kain yang diberi warna, pewarna yang digunakan merupakan larutan ekstrak zat warna alam dari kulit kayu tegeran, tingi, dan mahoni. Diketahui ada beberapa teknik ecoprint dimana dalam pelatihan ini digunakan teknik kukus (steam). Meski cuaca hari itu mendung dan hujan sejak pagi hingga sore hari, pelatihan dapat berjalan dengan lancar. “Senang sekali bisa ikut pelatihan ini, bisa dapat ilmu dan juga teman baru,” ucap Arina, salah seorang peserta mahasiswa.

Foto Bersama antara Pemateri, Peserta, dan Panitia (21/10/22)

“Kami tidak menyangka antusias masyarakat begitu besar, kuota peserta terpenuhi lebih cepat seminggu sebelum pelaksanaan. Awalnya kami menerima 25 peserta saja, namun alhamdulillah bisa kami tambah hingga 32 peserta,” kata Ir. Ekawati selaku Ketua Panitia dari IKATSI Sektor Batik. Lebih lanjut, disampaikan beliau bahwa peserta yang sudah mendaftar dan membayar biaya pendaftaran, namun belum dapat diikutsertakan sebagai peserta, nantinya dialihkan ke pelatihan berikutnya. Pelatihan ini merupakan yang pertama dan direncanakan berkelanjutan.

Ditemui di tempat terpisah, Ir. Agus Taufiq, M.Sc. selaku Ketua Program Studi S1 Rekayasa Teksti FTI UII menyampaikan bahwa pihaknya sangat menyambut baik insiasi dan pelaksanaan pelatihan ini. “Sebagai prodi baru, kami tentunya sangat terbuka untuk menjalin kerjasama, seperti dengan perusahaan, sekolah, termasuk dalam hal ini asosiasi profesi IKATSI.” Beliau berharap bahwa ke depannya kerjasama dengan IKATSI senantiasa terjalin sehingga terus menebar manfaat, baik bagi prodi secara khusus maupun masyarakat secara umum. (ASB)

Program Studi S1 Rekayasa Tekstil menerima kunjungan studi banding SMA Negeri 4 Malang di Auditorium Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII). Kunjungan berlangsung hari Rabu tanggal 12 Oktober 2022 pukul 13.00 WIB. Rombongan terdiri dari sedikitnya 90 siswa-siswi kelas XII dan 4 guru pendamping. Rombongan disambut oleh pimpinan fakultas, dosen dan mahasiswa Program Studi S1 Rekayasa Tekstil, serta tim Marketing and Communication (Marcom) FTI UII.

Pemaparan Profil Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII (12/10/22)

Ir. Agus Taufiq, M.Sc. selaku Ketua Program Studi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII secara langsung memberikan pemaparan mengenai rogram studi yang saat ini dipimpinnya kepada rombongan. “Meski baru berdiri tahun 2019 dan mulai menerima mahasiswa untuk pertama kalinya tahun 2020, embrio Rekayasa Tekstil UII sudah ada sejak tahun 1975,” terang Pak Agus. Lebih lanjut, beliau menyampaikan peminatan yang ada, laboratorium yang dimiliki, berbagai fasilitas dan aktivitas kemahasiswaan, sebaran alumni di dalam dan luar negeri, serta prospek karir ke depan.

“Sebelum pandemi Covid-19, kami melakukan kunjungan studi banding setiap tahun. Alhamdulillah kali ini kami berkesempatan mengunjungi UII dan ada Program Studi S1 Rekayasa Tekstil,” kata Ibu Ulin Nafi’ah, S.Ag., M.Pdi. selaku Guru Agama Islam SMA Negeri 4 Malang. Mewakili sekolah, beliau berharap semoga kunjungan ini selain menjalin silaturahmi juga memperkaya wawasan siswa-siswi karena tahun depan mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Siswa-Siswi SMA Negeri 4 Malang Melihat Fasilitas Laboratorium (12/10/22)

Sementara itu mewakili tuan rumah, Dr. Arif Hidayat, S.T., M.T. selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni FTI UII menyampaikan bahwa UII didirikan langsung oleh founding father Indonesia, yaitu Mohammad Hatta. “UII satu-satunya kampus di Indonesia yang memiliki candi, UII merupakan perguruan tinggi Islam namun terdapat candi Hindu di dalamnya,” jelas Pak Arif. Dengan demikian, beliau menekankan bahwa UII adalah kampus yang menghargai keberagaman.

Setelah menerima pemaparan program studi di Auditorium FTI UII, rombongan SMA Negeri 4 Malang kemudian melihat langsung laboratorium Program Studi S1 Rekayasa Tekstil, yaitu Laboratorium Manufaktur dan Pengujian Tekstil, Desain Produk Tekstil, Proses Kimia Tekstil dan Teknologi Nano, serta Tekstil Fungsional. Sesi ini dipandu oleh mahasiswa Program Studi S1 Rekayasa Tekstil. Tampak bahwa siswa-siswi SMA Negeri 4 Malang cukup antusias bertanya mengenai peralatan yang ada di laboratorium, serta kegiatan praktikum apa saja yang dilakukan. (ASB)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) yang terdiri dari IKATSI Pusat Sektor Batik dan IKATSI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)-Kedu bekerja sama dengan Program Studi Rekayasa Tekstil, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (Prodi Rekateks FTI UII) hendak menyelenggarakan pelatihan ecoprint. Pelatihan ini akan dilaksanakan secara luring pada,

Hari, Tanggal:
Jum’at, 21 Oktober 2022

Waktu:
09.00 WIB – selesai

Tempat:
Lab. Prodi Rekayasa Tekstil FTI UII
Gedung K.H.A. Wahid Hasyim
Jalan Kaliurang Km 14,5 Ngemplak
Daerah Istimewa Yogyakarta 55584

Peserta:
Terbuka bagi masyarakat umum

Biaya:
Rp120.000
Ditransfer ke Rekening Bank Mandiri
1370019555404 a.n. Ahmad Satria Budiman

Fasilitas:
– Modul Pelatihan
– Alat dan Bahan
– E-sertifikat
– Konsumsi (Snack & Makan Siang)
– Hasil Ecoprint (2,5 yard/2 meter)

Silakan mengisi formulir berikut ini dan melampirkan bukti transfer pembayaran pelatihan: https://s.id/daftar-ecoprint

Demikian terima kasih, sampai jumpa di pelatihan.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Dalam rangka tridharma perguruan tinggi melalui peningkatan kerjasama mitra, Program Studi S1 Rekayasa Tekstil, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), menyelenggarakan kerjasama dengan SMK Kesehatan Binatama. Agenda penandatanganan naskah kerjasama telah dilakukan antara Dekan FTI UII dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Binatama pada hari Kamis tanggal 15 September 2022 bertempat di Ruang Sidang Dekanat FTI UII. Hadir pula enam dosen Rekayasa Tekstil UII dan dua guru SMK Kesehatan Binatama.

Dekan FTI UII bersama Kepala Sekolah SMK Kesehatan Binatama setelah Penandatanganan Naskah Kerjasama (15/09/22)

“Kami berharap dari kerjasama ini dapat saling memberi keuntungan bagi kedua pihak, dari Rekayasa Tekstil UII bisa menjadi guru tamu di sekolah kami, begitu pula anak-anak kami nanti harapannya bisa melanjutkan studi di Rekayasa Tekstil UII,” kata Ibu Nuri Hastuti, S.P., M.K.M., selaku Kepala Sekolah SMK Kesehatan Binatama. Ada dua jurusan di SMK Kesehatan Binatama, yaitu Farmasi dan Keperawatan. Setiap tahun diadakan pameran pendidikan di sekolah dimana sejumlah perguruan tinggi membuka stan untuk memberi informasi bagi siswa-siswi kelas XII.

Sementara itu dalam sambutannya, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa setelah dilakukan penandatanganan, maka kerjasama dapat segera diimplementasikan. “Jangan sampai selama setahun tidak ada kegiatan, nanti saya cabut perjanjian kerjasamanya,” seloroh Prof. Hari. Hal ini dikarenakan saat akreditasi, salah satu hal yang menjadi pertanyaan adalah bentuk kerjasama apa yang sudah dilaksanakan, sehingga tidak sebatas legal hitam di atas putih saja. Prodi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII tentu sangat menyambut hangat kerjasama ini.

Penyampaian Materi Pengelolaan Limbah Masker Medis oleh Dosen Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII kepada Siswa-Siswi SMK Kesehatan Binatama (16/09/22)

Sehari setelahnya, Prodi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII mengirimkan tiga dosen untuk menjadi guru tamu di SMK Kesehatan Binatama. Sebagai informasi, setiap hari Jum’at tidak ada pembelajaran di kelas bersama guru seperti biasa, akan tetapi pembelajaran dilaksanakan di luar kelas atau dilakukan dengan mengundang pemateri dari luar sekolah. Pada hari Jum’at tanggal 16 September 2022, tiga dosen Prodi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII, yaitu Ibu Dr. Eng. Rina Afiani Rebia, S.Hut., M.Eng., Ibu Febrianti Nurul Hidayah, S.T., B.Sc., M.Sc., dan Pak Ahmad Satria Budiman, S.T., M.Sc., berkesempatan untuk memberi materi pengelolaan limbah masker medis.

Sesi pembelajaran siswa-siswi SMK Kesehatan Binatama bersama dosen Prodi S1 Rekayasa Tekstil FTI UII berlangsung interaktif dimana kelas X bersama Ibu Rina, kelas XI bersama Ibu Febri, dan kelas XII bersama Pak Budi. Di samping pemaparan materi melalui presentasi dan contoh produk kreasi daur ulang limbah masker medis, dalam sesi tersebut juga diputarkan sejumlah video dan pembagian bingkisan bagi peserta aktif. “Kami tunggu kembali kehadirannya untuk memberi pengetahuan baru kepada kami,” pungkas Bu Diana, salah seorang guru SMK Kesehatan Binatama, saat tim dosen berpamitan meninggalkan sekolah. (ASB)

Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat, Program Studi S1 Rekayasa Tekstil, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), menyelenggarakan Workshop Pengolahan Limbah Masker Sekali Pakai bersama guru dan siswa SMK Muhammadiyah 2 Sleman. Acara yang berlangsung hari Rabu tanggal 10 Agustus 2022 tersebut bertempat di Ruang Kelas 04.16 FTI UII. Acara diikuti oleh enam orang guru dan sembilan orang siswa yang juga dihadiri delapan orang dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan dari Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII.

Sesi Teori Pengolahan Limbah Masker di Ruang Kelas (10/08/22)

Sesi pertama merupakan sesi teori. Sesi ini dilaksanakan pukul 09.30 – 10.30 WIB dengan pemaparan materi oleh Ibu Febrianti Nurul Hidayah, S.T., B.Sc., M.Sc. selaku Dosen Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII. Dalam materi tersebut, disampaikan bahan dasar masker sekali pakai (masker medis), yaitu polimer bernama polypropylene, produk-produk tekstil yang terbuat dari polypropylene, serta salah satu cara untuk mengolah limbah masker medis dengan menjadikannya lembaran plastik. Lembaran ini nantinya dapat dibuat menjadi produk baru yang bernilai tambah.

Sesi kedua merupakan sesi praktik. Sesi ini dilaksanakan pukul 11.00 – 15.00 WIB dimana peserta berpindah dari ruang kelas ke Laboratorium Tekstil Fungsional milik Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII. Sebelum pelatihan dilaksanakan, guru dan siswa SMK Muhammadiyah 2 Sleman telah mengumpulkan sampah masker di sekolah yang sudah dipisahkan antara tali dan maskernya di tempat sampah khusus. Sampah masker tersebut kemudian dicuci dan dijemur sampai kering, lalu diambil oleh tim dari Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII untuk diolah dalam pelatihan.

Sesi Praktik Pengolahan Limbah Masker di Laboratorium (10/08/22)

Pada sesi praktik, dimulai dengan pengarahan dari Ibu Dr. Eng. Rina Afiani Rebia, S.Hut., M.Eng. selaku Dosen Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII untuk memisahkan lapisan masker yang terdiri dari lapisan luar, tengah, dan dalam. Setiap lapisan kemudian digunting berukuran kecil untuk selanjutnya diletakkan di cetakan dan dilelehkan dengan alat hot press pada suhu 200oC. Dalam sesi ini, disampaikan pula penjelasan dari Amelia Tri Budi Astuti selaku Mahasiswa Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII 2021, bahwa lapisan luar masker pun dapat diolah atau didaur ulang tersendiri dengan cara dijahit, seperti menjadi tas, dompet, atau produk kreatif lainnya.

Para siswa SMK Muhammadiyah 2 Sleman tampak antusias. Salah seorang siswa bernama Syifa akan mencoba membuat hiasan bermotif bunga saat ditanya apa produk yang akan dibuatnya dari hasil pengolahan limbah masker. Guru-guru pun menyambut positif. “Alhamdulillah kegiatan ini dapat terlaksana, kami sangat mengapresiasi. Semoga kerja sama yang terjalin antara Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII dan SMK Muhammadiyah 2 Sleman dapat terus berlanjut ke depannya,” kata Ibu Siti selaku perwakilan guru SMK Muhammadiyah 2 Sleman. (ASB)

Assalamualaikum wr. wb.

Rekayasa Tekstil UII mempersembahkan
— General Lecture #2 Semester Genap —

Speaker:
Dr. Jens Oelerich
Associate Professor Sustainable Textiles, Saxion University of Applied Sciences, The Netherlands

Tema:
“Sustainable Textiles: Introduction to SaXcell and Its Potential Applications”

Hari, Tanggal : Selasa, 29 Juni 2022
Pukul : 14.00 – 15.30 WIB
Media : Zoom Meeting (956 2496 0274)

Pendaftaran : https://s.id/PendaftaranGLRekateks2

Moderator:
Febrianti Nurul Hidayah, S.T., B.Sc., M.Sc.
Department of Textile Engineering, Faculty of Industrial Technology, Islamic University of Indonesia

Fasilitas:
– Materi
– E-certificate
– Doorprize

Jazākumullāhu Khayrān
Jadi pionir, siap berkarir!

Wassalamualaikum wr. wb.

Assalamualaikum wr. wb.

Rekayasa Tekstil UII mempersembahkan
— General Lecture #1 Semester Genap —

Speaker:
Dr. Eng. Muzamil Khatri
Department of Chemistry and Material, Faculty of Textile Science and Technology, Shinshu University, Japan

Tema:
“Introduction to Electrospun Nanofibers and Potential Applications”

Hari, Tanggal : Selasa, 7 Juni 2022
Pukul : 10.00 – 12.00 WIB
Media : Zoom Meeting (946 0850 6798)

Pendaftaran : https://s.id/PendaftaranGLRekateks1

Moderator:
Dr. Eng. Rina Afiani Rebia
Department of Textile Engineering, Faculty of Industrial Technology, Islamic University of Indonesia

Fasilitas:
– Materi
– E-certificate
– Doorprize

Jazākumullāhu Khayrān
Jadi pionir, siap berkarir!

Wassalamualaikum wr. wb.

Jika kita punya celana jeans, sudah menjadi tanggung jawab kita menggunakannya sebijaksana mungkin. “Contohnya tidak sering dicuci dan tidak dibuang begitu saja,” kata Ahmad Satria Budiman, S.T., M.Sc. yang merupakan Dosen Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII dalam acara Techno Talk di Unisi Radio 104.5 FM. Dalam program yang mengudara Kamis siang (02/06/2022), Pak Budi selaku narasumber membahas berbagai hal terkait sejarah celana jeans, proses, dan tips pemakaiannya.

Seperti apa itu? Berikut ulasan selengkapnya.

 

Boleh diceritakan Pak, sejarahnya celana jeans?

Celana jeans dibuat dari kain denim, kain denim ditemukan di Perancis pada abad ke-18. Ada penjahit yang bernama Levi Strauss, sekarang ada namanya celana levis itu penemunya Levi Strauss. Kain denim intinya dibuat dari kapas dengan nomor benang rendah, dalam arti berat kapasnya lebih tinggi dibandingkan kain-kain untuk kemeja dan kaos, maka terasa lebih berat. Celana jeans dulu dibuat untuk pekerja tambang guna melindungi mereka dari hal-hal di sekitar aktivitas pertambangan. Makin ke sini, jeans malah berubah menjadi salah satu ikon di dunia mode.

Celana jeans bisa melar, itu gimana Pak?

Kalau yang bisa membuat melar, itu karena ada campuran serat sintetis. Berbicara tentang serat tekstil, ada serat alam dan serat sintetis. Kapas itu serat alam, serat sintetis contohnya polyester dan nylon. Nah di celana jeans ada serat spandex yang nama ilmiahnya polyurethane. Serat sintetis dibuat dari turunan minyak bumi. Di sini, spandex dicampur kapas yang membuat jeans lebih elastis sehingga bisa melar.

Celana jeans identik dengan warna biru, kenapa Pak?

Ada zat warna alam dan zat warna sintetis. Kalau zat warna alam, ada daun indigofera yang ketika diekstraksi warna yang diperoleh adalah biru indigo atau biru jeans. Namun zat warna alam prosesnya lama, kemudian tingkat kecerahan warnanya tidak seragam, maksudnya antara yang cukup matang dan masih mentah tingkat kecerahan warnanya beda. Maka digunakan pewarna sintetis, seperti naftol yang mirip indigo, prosesnya cepat, kecerahan warnanya lebih mudah diatur, tapi di sisi lain berasal dari turunan minyak bumi yang tidak terbarukan.

Celana jeans termasuk gampang luntur, apakah seperti itu Pak?

Mungkin maksudnya tampilan yang seperti luntur. Kalau itu, bukan karena sering dicuci, tapi memang ada namanya penyempurnaan khusus (finishing) yang sengaja dibuat agar produk tekstil terlihat lebih estetik. Salah satunya di celana jeans ada finishing yang membuat tampilan lebih pudar, itu menggunakan teknik penyemprotan yang cenderung zat asam. Masalah yang muncul ketika sudah menjadi limbah dan tidak diolah dengan baik, justru bisa mencemari lingkungan.

Kita masuk ke proses pembuatan celana jeans, seperti apa Pak?

Prosesnya sendiri dimulai dari serat kapas. Semua produk tekstil sandang (pakaian) kebanyakan dibuat atau berasal dari serat kapas. Serat kapas diambil, dipanen, lalu dipintal jadi benang yang dalam celana jeans saat pemintalan juga dicampur spandex, kemudian benang kapas dan campuran spandex tersebut ditenun jadi kain denim, setelah itu masuk ke proses garmen dimana kain denim dibuat pola, dipotong, dan dirangkai atau dijahit jadi celana jeans. Ditambahkan juga pernak-pernik lain, seperti resleting, kancing di bagian saku, dan ada namanya paku keling yang berupa bulatan besar di bagian kancing yang merupakan ciri khas celana jeans.

Biasanya butuh waktu berapa lama?

Skala industri tentu tidak terlalu lama karena teknologi dengan berbagai sistem otomatisasinya membuat produksi berjalan cepat dan efisien. Namun fokus perhatian di sini, satu celana jeans menghasilkan atau membutuhkan sekitar 33 kg emisi karbon yang setara dengan kita mengemudi kendaraan sejauh kurang lebih 100 sampai 110 km. Emisi karbon di sini maksudnya dimulai dari menumbuhkan kapas ada kebutuhan air dan pupuk, lalu pemintalan dan pertenunan ada bahan bakar atau energi yang digunakan, ada air panas untuk mewarnai dan mencuci.

Kalau tips pemakaian celana jeans seperti apa, Pak?

Tidak perlu terlalu sering dicuci. Biasanya kita kalau pakaian, sekali pakai langsung cuci, supaya bersih memang tujuannya. Namun di celana jeans tidak perlu seperti itu. Karena pertimbangan yang pertama, konsumsi air cukup berlebih karena kain denim itu lebih berat kapasnya dari segi nomor benang seperti di awal tadi, sehingga saat dicuci lebih menyerap air dan butuh air lebih banyak. Pertimbangan selanjutnya yang tidak kalah penting, tadi juga di celana jeans itu ada spandex yang merupakan serat sintetis atau serat plastik. Kalau sering dicuci, plastik tersebut akan terurai atau bisa terdegradasi jadi mikroplastik yang ukurannya sangat kecil dan lepas ke lingkungan. Secara tidak langsung,  kita turut mencemari lingkungan. Maka dari itu, celana jeans bisa sepuluh kali pakai baru dicuci. Bahkan misalnya cuaca tidak hujan atau panas yang terik, celana jeans cukup dijemur saja untuk lebih menghemat air dan menjaga lingkungan dengan mengurangi mikroplastik.

Menimbulkan bau nggak nanti, Pak?

Kita bisa menggantung di luar ruangan, atau diangin-anginkan. Sambil dijemur di panas, itu bisa mengurangi bau yang tidak enak kalau misalnya jeans berbau.

Kalau sudah tidak terpakai, baiknya diapakan, Pak?

Kebanyakan berakhir di tempat sampah. Kalau sudah benar-benar tidak layak lagi jadi celana, kita bisa mendaur ulang dengan mengguntingnya menjadi lap, keset, atau produk-produk rumah tangga sehari-hari. Kalau di sekitar kita ada industri kain perca, kita bisa bawa ke sana supaya bisa diolah pelaku UMKM menjadi produk yang lebih bermanfaat, seperti jadi tas, kotak pensil, atau produk-produk kreatif lainnya.

Selanjutnya tentang Prodi Rekayasa Tekstil, alasan dibukanya apa ya, Pak?

Salah satu pertimbangannya, banyak industri tekstil yang butuh lulusan sarjana, sekarang banyak diploma dan lulusan SMK. Meski baru beberapa tahun berdiri, sudah ada industri menghubungi kami menanyakan apakah ada alumni yang bisa ditarik untuk bekerja di sana, sedangkan kita baru berdiri dan belum meluluskan mahasiswa. Selain itu, Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah terkait serat alam, kami melihatnya sebagai peluang bagi Indonesia untuk menjadi negara yang inovatif di bidang pengolahan dan pengembangan serat alam.

Kalau beasiswa di Prodi Rekayasa Tekstil, ada nggak sih Pak?

Kita terbuka jalur mandiri (pembiayaan sendiri) dan beasiswa. Untuk beasiswa, kita menyediakan atau memberikan biaya studi selama 4 tahun dengan 4 skema beasiswa yang bisa didaftar, yaitu Beasiswa Atlet dan Juara Seni, Beasiswa Santri Unggulan UII, Beasiswa Duafa, dan Beasiswa Hafiz Al-Qur’an. Untuk penerimaan mahasiswa baru kita buka sampai September, tetapi untuk beasiswa semakin cepat semakin bagus karena jika kuota sudah terpenuhi maka beasiswa akan ditutup.

Ada bocoran nggak Pak, berapa kuota beasiswanya?

Ada 12 kuota penerimaan mahasiswa baru, dan sudah mulai terisi dari sekarang. Segera daftar, bisa menghubungi kami melalui akun Instagram @rekateks.uii atau bisa juga melalui WhatsApp resmi di nomor 0813-2074-6497.

 

Demikian semoga bermanfaat, sampai jumpa di Techno Talk berikutnya. (ASB)

Produk tekstil bukan hanya berupa kain konvensional yang terdiri dari tenun dan rajut, melainkan ada yang disebut nonwoven. “Tekstil itu luas, tidak hanya tentang fesyen atau menjahit saja,” kata Dr. Eng. Rina Afiani Rebia, S.Hut., M.Eng. yang merupakan Dosen Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII dalam acara Techno Talk di Unisi Radio 104.5 FM. Dalam program yang mengudara Kamis siang (26/05/2022), Ibu Rina membahas berbagai hal terkait teknologi nonwoven di bidang rekayasa tekstil.

Seperti apa itu? Berikut ulasan selengkapnya.

 

Apa yang dimaksud dengan nonwoven, Bu?

Produk tekstil itu ada tiga, tenun, rajut, dan bukan tenun atau nirtenun. Nonwoven itu kain bukan tenun atau kain yang tidak ditenun, begitu penjelasan sederhananya. Lebih jelasnya merupakan bahan seperti kain atau lembar kain yang terbuat dari serat pendek (staple fiber) atau serat panjang (continuous fiber) yang dijadikan satu dengan perlakuan kimia, mekanik, panas, atau menggunakan pelarut.

Bahan untuk membuat nonwoven itu apa, Bu?

Seperti yang saya sampaikan tadi, nonwoven itu terbuat dari bahan serat. Kalau mahasiswa di Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII, mereka dapat mata kuliah Pengetahuan Serat Tekstil. Serat tekstil bisa berasal dari serat alam (natural fiber) seperti kapas, rami, jute, flax, dan lain-lain; dan serat sintetis atau serat yang dibuat oleh manusia (manmade fiber). Bagi pendengar di rumah yang mungkin agak awam, kalau tahu polimer dari plastik untuk botol air mineral, nah itu dari serat sintetis yang namanya polyethylene terephthalate atau polyester. Contoh serat sintetis yang lain ada polypropylene, polyuretahane, nylon atau polyamide, dan lain-lain. Jadi nanti serat-serat tersebut digabung sebagai bahan baku pembuatan nonwoven.

Pembuatan nonwoven berapa lama, Bu?

Proses pembuatannya ada banyak dan lebih cepat dibandingkan kain yang ditenun atau dirajut. Prosesnya bersifat massal atau mass production, bisa dengan perlakuan kimia, mekanik, panas, atau menggunakan pelarut itu tadi.

Kalau cara membuat nonwoven bagaimana, Bu?

Teknologi nonwoven ada beberapa proses untuk mendapatkan produk nonwoven atau ada juga yang menyebutnya “web nonwoven” atau “lembaran nonwoven”. Ada empat cara, yaitu 1) wet laid, 2) dry laid, 3) air laid, dan 4) spun laid.

Kita mulai dari wet laid, prosesnya hampir sama seperti kertas. Serat-serat pendek diaduk sampai rata atau homogen, lalu diendapkan pada lapisan yang berjalan sambil airnya ditiriskan ke bawah, kemudian dikeringkan untuk diproses tahap selanjutnya. Sedangkan pada dry laid, pada awalnya serat itu lengket satu sama lain, disisir supaya terurai dan tidak saling menempel, lalu diletakkan di cetakan web menjadi lembaran. Berikutnya untuk air laid, ini hampir sama namun serat tidak dipisahkan pakai sisir, tetapi pakai udara, lalu dilarutkan di cetakan web.

Dan yang terakhir spun laid, cara ini terbagi dua, yaitu spunbond dan meltblown dimana lembaran nonwoven dibuat dari polimer dan jarang digunakan untuk serat alam. Bahan baku bijih plastik dilelehkan, lalu dilewatkan rongga atau bolongan kecil yang disebut spinneret, analoginya seperti membuat mi, lalu diproses lanjut.

Untuk spunbond dan meltblown, orang memilihnya berdasarkan apa, Bu?

Berdasarkan kekuatannya, spunbond kekuatannya lebih besar dan lebih fleksibel, biasanya untuk diapers (popok bayi) dan tisu basah. Kalau meltblown lebih sederhana prosesnya, produktivitasnya lebih tinggi, kekuatannya tidak sebesar spunbond, dan untuk produknya lebih halus, biasanya untuk filter air.

Contoh barang nonwoven yang sering ditemui, tapi kita belum menyadari?

Di kehidupan sehari-hari, misalnya perlengkapan rumah tangga seperti tas belanja supermarket; perlengkapan pribadi seperti tisu basah, sheet mask (masker wajah), popok bayi, dan pembalut; kesehatan seperti baju bedah, masker, dan perban luka; pertanian seperti sejenis pembungkus untuk melindungi buah dari gangguan hewan-hewan kecil semacam serangga karena kalau pembungkusnya plastik terasa panas sedangkan pembungkus nonwoven masih ada celah udara; kemudian dalam industri makanan dan obat-obatan seperti kantong teh celup, filter air, filter kopi, dll.

Manfaat atau keunggulan nonwoven, apa saja, Bu?

Saat ini permintaan produk nonwoven semakin tinggi karena ada banyak manfaat atau keunggulan dibandingkan kain konvensional (tenun/rajut). Nonwoven bertujuan untuk hal-hal terkait tekstil yang tidak bisa dilakukan kain konvensional. Pertama, produksi nonwoven bisa massal dan cepat sehingga menghemat biaya produksi. Kedua, jangkauan produknya lebih luas daripada kain konvensional dan bervariasi. Ketiga, nonwoven punya fungsi tertentu dan karakteristik yang spesifik, salah satunya bisa punya daya serap tinggi seperti pada popok dan pembalut, kemampuan filtrasi untuk filter kain dan udara, ketahanan air atau api, sampai anti mikroorganisme misalnya untuk masker yang sehari-hari kita gunakan sejak pandemi Covid-19. Produk nonwoven bisa direkayasa sesuai apa yang ingin dituju.

Kalau tentang Prodi Rekayasa Tekstil, sebenarnya belajar apa ya, Bu?

Tidak hanya tentang fesyen atau menjahit saja, mencakup tekstil secara luas pada bidang-bidang tertentu, seperti tekstil fungsional, tekstil medis, geotekstil, dan lain-lain. Sedikit cerita, dulu setelah saya lulus S1, saya menempuh S2 dan S3 di Jepang selama 5 tahun. Awalnya banyak orang di sekitar saya yang beranggapan belajar di tekstil itu hanya mengenai kain konvensional (tenun/rajut), pada kenyataannya tekstil itu lebih luas. Memang ada belajar kain konvensional, tetapi juga belajar hal-hal lain seperti teknologi implant, wound dressing, benang jahit operasi, protective clothing, sampai dengan komposit pesawat terbang dan mobil. Wah beda sekali dari anggapan orang-orang di sekitar saya, saya bahkan bisa cerita kalau sampai luar angkasa seperti material parasut, jadi tidak sebatas untuk bumi saja belajarnya.

Semoga ini bisa lebih membuka wawasan kita semua.

 

Demikian semoga bermanfaat, sampai jumpa di Techno Talk berikutnya. (ASB)

Sebagai bagian dari upaya untuk mengedukasi masyarakat tentang sumber daya alam tekstil, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII menyelenggarakan Webinar Pengabdian Masyarakat dengan tema “Potensi Sumber Daya Alam pada Penggunaan di Bidang Tekstil”. Webinar ini diselenggarakan sebanyak dua seri. Adapun seri 2 atau yang kedua dilaksanakan pada hari Sabtu (22/01/2022) melalui Zoom Meeting dan YouTube Live Streaming. Peserta yang hadir kurang lebih 50 orang, terdiri dari civitas akademika UII dan juga masyarakat umum dari luar UII. Bertindak sebagai narasumber adalah mahasiswa yang berkolaborasi dengan dosen.

Pemaparan Judul “Sumber Daya Alam Indonesia sebagai Natural Dyes di Bidang Tekstil” pada Webinar Pengabdian Seri 2 (22/01/22)

“Indonesia masih sangat bergantung terhadap penggunaan bahan pewarna sintetis karena lebih murah harganya, padahal selain tidak ramah lingkungan, pewarna sintetis merupakan impor yang jelas membebani devisa negara,” kata Narisa Diah Sukma M.D., mahasiswa Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII sebagai narasumber pertama. Bersama rekannya Adella Medika K.N. yang juga mahasiswa Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII, disampaikan bahwa contoh sumber daya alam untuk pewarna alami antara lain daun/buah tom nila, tangkai tegeran, kulit manggis, daun jati, kulit batang mahoni, kulit kayu secang, daun ketapang, daun pohon rambutan, dan daun suji.

Narasumber kedua adalah Ir. Drs. Faisal R.M., M.T., Ph.D. dengan mengangkat topik tekstil industri. Tekstil terbagi dua, yaitu tekstil sandang dan tekstil non-sandang. Sedangkan tekstil industri artinya kontribusi tekstil yang dibutuhkan oleh industri. Ada tiga kelompok dari tekstil industri, yaitu material (bahan baku penolong) seperti badan kereta api, badan pesawat terbang, dan badan mobil; komponen produk seperti kursi kereta api, kursi pesawat terbang, dan kursi mobil; serta produk jadi (finished good) seperti alat pelindung diri (APD) masker dan hazmat, tas ransel, dan tenda kemah. Ada persyaratan teknis yang perlu dipenuhi dalam tekstil industri.

Pemaparan Judul “Pemanfaatan Serat Sabut Kelapa sebagai Bahan untuk Keperluan Teknis dan Non-Teknis” pada Webinar Pengabdian Seri 2 (22/01/22)

“Indonesia merupakan negara terbesar penghasil kelapa di dunia menurut data dari Dirjen Perkebunan 2021. Saingan kita itu Filipina, jauh di bawah kita, tapi ekspornya lebih tinggi dari Indonesia karena pemanfaatan maksimal dari produk kelapa,” lanjut Ir. Pratikno Hidayat, M.Sc. Serat sabut kelapa (cocofiber) merupakan turunan atau hasil samping dari buah kelapa dengan bobot sekitar 35% dari buah kelapa dan nilai jual yang lebih tinggi dari buah kelapa itu sendiri. Pemanfaatan non-teknis sebagai serbuk (cocopeat) media tanam, briket, sapu, keset, pelapis jok mobil, dan peredam ruangan. Pemanfaatan teknisnya sebagai reinforcement material komposit.

Narasumber keempat adalah Dr. Eng. Rina Afiani Rebia, S.Hut., M.Eng. Terlebih dahulu, diperkenalkan bahwa non-woven merupakan kain bukan tenunan yang diikat dengan perlakuan kimia, mekanik, panas, atau pelarut. Adapun natural produk dapat digunakan sebagai zat anti bakteri pada material non-woven. Natural produk di bidang tekstil dibagi tiga, yaitu serat tekstil alami, pewarna alami dan proteksi sinar UV, serta anti mikroba alami (bakteri). Sebagai zat anti bakteri, natural produk yang dapat digunakan antara lain centella , propolis, dan hinokitiol untuk serat nano pembalut luka. Perlu diketahui senyawa kimia yang akan diekstraksi dan metodenya.

Pemaparan Judul “Aplikasi Natural Produk sebagai Zat Antibakteri pada Material Non-Woven” pada Webinar Pengabdian Seri 2 (22/01/22)

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, pertanda peserta begitu antusias. “Mengapa pada proses pewarnaan dengan zat warna alam menggunakan obat bantu alkohol dan soda abu, apa pengaruhnya dan apa fungsi dari obat bantu tersebut?” demikian salah satu pertanyaan yang dibacakan langsung oleh peserta setelah dipersilakan Putri Nur Ashri Prabowo, mahasiswa Prodi S1 Rekayasa Tekstil UII yang berperan sebagai moderator. Etanol digunakan untuk membantu pelarutan hasil ekstraksi pewarna alami seperti kulit manggis pada alat soxhlet, sedangkan soda abu berperan sebagai bahan pembantu tahan luntur saat pencucian dan penggosokan.

Selengkapnya: Webinar Pengabdian Prodi Rekayasa Tekstil UII Seri 2 (2021/2022)