Rekateks UII - Berita Terkini

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Halo sobat semua, gimana kabarnya? Semoga tetap sehat dan bahagia selalu ya. Sebagai salah satu upaya untuk mendukung protokol kesehatan dan menjaga lingkungan sekitar, Program Studi Rekayasa Tekstil UII akan menyelenggarakan Pengabdian Seri 2 dengan tema “Masker dan Pengelolaan Daur Ulang Masker Medis”.

Acara insya Allah dilaksanakan pada:
🗓️ Hari, Tanggal: Sabtu, 21 Agustus 2021
🕰️ Waktu: 10.00 – 12.00 WIB
🏠 Tempat: Zoom Meeting (meeting ID dan password dibagikan di WhatsApp Group setelah mendaftar)

🎉 Narasumber 1.
*Ir. Drs. Faisal RM, M.T., Ph.D.*
Sub Tema: “Desain dan Pemilihan Bahan Masker Covid-19 yang Aman dan Nyaman”

🎉 Narasumber 2.
*Dr. Eng. Rina Afiani Rebia, S.Hut., M.Eng.*
Sub Tema: “Dampak Lingkungan dan Tantangan Mengatasi Limbah Masker Rumah Tangga”

🎉 Narasumber 3.
*Febrianti Nurul Hidayah, S.T., B.Sc., M.Sc.*
Sub Tema: “Pengolahan Limbah Masker Medis Menjadi Bijih Plastik Bahan Baku Geotekstil”

🎉 Moderator
*Latif Budiono*
Mahasiswa Rekayasa Tekstil UII 2020

Webinar ini free, terbuka bagi siswa-siswi SMA/SMK/MA/Sederajat, Guru, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. Dapatkan ilmu yang bermanfaat, e-certificate, dan doorprize yang menarik. Tersedia juga bingkisan spesial, diundi bagi peserta yang mengikuti seluruh rangkaian acara pada Pengabdian Seri 1 dan Seri 2. Segera daftarkan dirimu: https://bit.ly/WRekateks

Rekateks UII - Berita Terkini Event

Sebagai bagian dari upaya untuk mendukung protokol kesehatan dan menjaga lingkungan sekitar, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII menyelenggarakan Webinar Pengabdian Seri 1 dengan tema “Efektivitas Penggunaan Masker di Masa Pandemi Covid-19”. Acara yang diikuti sedikitnya 100 peserta ini berlangsung Sabtu (14/08/21) melalui Zoom Meeting dan YouTube Live Streaming. Bertindak sebagai narasumber adalah Ir. Agus Taufiq, M.Sc. dan Ahmad Satria Budiman, S.T., M.Sc., keduanya merupakan dosen di Prodi Rekayasa Tekstil UII.

Sebagaimana diketahui, Pandemi Covid-19 membawa berbagai dampak bagi kehidupan kita. Mulai dari banyaknya kegiatan yang dibatalkan, ruang gerak masyarakat yang terbatas, aktivitas ekonomi yang sepi sehingga menurunkan pendapatan masyarakat, sejumlah tes kesehatan sebagai persyaratan kegiatan tertentu, hingga perkembangan varian virus. Namun di satu sisi, tumbuh rasa peduli dan saling bantu di tengah masyarakat, serta kesadaran untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Memakai masker merupakan salah satunya.

Pemaparan Sub Tema “Mencegah Masalah Kulit Akibat Penggunaan Masker” pada Webinar Pengabdian Seri 1 (14/08/21)

Ada tiga masalah utama pada kulit yang diakibatkan oleh pemakaian masker, yaitu timbulnya jerawat, rasa gatal pada wajah, serta munculnya ruam pada wajah. Hal ini dikarenakan panas dan lembab di daerah kulit yang tertutupi masker. Permasalahan tersebut dapat dicegah dengan lima langkah sederhana, yaitu memilih bahan masker yang tidak menyebabkan iritasi, mencuci wajah sebelum dan sesudah menggunakan masker, tidak memakai make up secara berlebihan, mengganti atau mencuci masker pada waktunya, dan menggunakan pelembab secara rutin.

“Misalnya masker yang terbuat dari bahan cotton (kapas), karena serat kapas memiliki komponen terbesar selulosa rantai panjang dengan sifat fisik yang lebih kuat dan tahan lama terhadap degradasi dari panas, bahan kimia, dan pengaruh biologis. Selain itu tidak mudah larut dalam air, alkali, ataupun pelarut organik, serta dalam keadaan kering bersifat higroskopis yaitu mudah menyerap uap air sehingga akan bersifat lunak,” terang Ir. Agus Taufiq, M.Sc., selaku narasumber pertama. Penggunaan masker yang sehat dan ideal perlu diganti setiap 4 jam.

Pemaparan Sub Tema “Penggunaan Masker Dua Rangkap sebagai Ikhtiar Preventif Melindungi Diri dan Orang Lain” pada Webinar Pengabdian Seri 1 (14/08/21)

Sementara itu, jenis-jenis masker yang beredar antara lain masker medis/masker bedah, masker kain, masker scuba (tidak disarankan karena efektivitas sekitar 5%), masker KF94, masker N95, dan masker KN95. Masyarakat dianjurkan untuk menggunakan masker dua rangkap dimana penggunaan yang tepat adalah dengan melapiskan masker kain di atas masker bedah. Tujuan utamanya ada dua, yaitu meningkatkan daya filtrasi sampai 85-90% dan meminimalkan celah udara. Celah di pipi wajah dari masker bedah dapat lebih ditutup dengan masker kain.

“Di samping itu, ada beberapa hal yang harus (do’s) dan tidak boleh dilakukan (don’ts). Masker harus menutup hidung, menutup mulut dan dagu, serta tidak membuat kita kesulitan bernapas. Kemudian masker dua rangkap bukan artinya masker bedah dan masker bedah, bukan masker KN95 dan masker bedah, tidak disarankan masker dengan katup udara karena bisa jadi celah masuknya virus,” sambung Ahmad Satria Budiman, S.T., M.Sc., selaku narasumber kedua. Senada sebelumnya, masker perlu diganti atau dicuci pada waktunya. (ASB)

Rekateks UII - Berita Terkini

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Halo sobat semua, gimana kabarnya? Semoga tetap sehat dan bahagia selalu ya. Sebagai salah satu upaya untuk mendukung protokol kesehatan dan menjaga lingkungan sekitar, Program Studi Rekayasa Tekstil UII akan menyelenggarakan Pengabdian Seri 1 dengan mengangkat tema “Efektivitas Penggunaan Masker di Masa Pandemi Covid-19”.

Acara insya Allah dilaksanakan pada:
🗓️ Hari, Tanggal: Sabtu, 14 Agustus 2021
🕰️ Waktu: 10.00 – 12.00 WIB
🏠 Tempat: Zoom Meeting (meeting ID dan password dibagikan di WhatsApp Group setelah mendaftar)

🎉 Narasumber 1.
*Ir. Agus Taufiq, M.Sc.*
Sub Tema: “Mencegah Masalah Kulit Akibat Penggunaan Masker”

🎉 Narasumber 2.
*Ahmad Satria Budiman, S.T., M.Sc.*
Sub Tema: “Penggunaan Masker Dua Rangkap sebagai Ikhtiar Preventif Melindungi Diri dan Orang Lain”

🎉 Moderator
*Aulia Ajeng Rerengganing Dias*
Mahasiswi Rekayasa Tekstil UII 2020

Webinar ini free, terbuka bagi siswa-siswi SMA/SMK/MA/Sederajat, Guru, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. Dapatkan ilmu yang bermanfaat, e-certificate, dan doorprize yang menarik. Tersedia juga bingkisan spesial, diundi bagi peserta yang mengikuti seluruh rangkaian acara pada Pengabdian Seri 1 dan Seri 2. Segera daftarkan dirimu: https://bit.ly/WRekateks

Nantikan informasi selanjutnya untuk Pengabdian Seri 2.

Rekateks UII - Berita Terkini Event

Untuk ketiga kalinya, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII kembali menyelenggarakan kuliah tamu sebagai bagian dari aktivitas pengajaran. Beberapa waktu lalu, kuliah tamu pertama membahas nanoteknologi dan kuliah tamu ketiga membahas komposit. Dalam kesempatan yang sekaligus menjadi penutup semester genap 2020/2021, topik yang dibahas adalah fashion. Kuliah tamu ketiga telah dilaksanakan hari Rabu (07/07/21) melalui Zoom Meeting dengan dihadiri sedikitnya 40 peserta. Bertindak sebagai pemateri adalah Yuliana Fitri, S.E. selaku Owner dan Designer di Aruna Creative ID dan CV. Asti Reswara Nata, Yogyakarta.

Untuk ketiga kalinya, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII kembali menyelenggarakan kuliah tamu sebagai bagian dari aktivitas pengajaran. Beberapa waktu lalu, kuliah tamu pertama membahas nanoteknologi dan kuliah tamu kedua membahas komposit. Dalam kesempatan yang sekaligus menjadi penutup semester genap 2020/2021, topik yang dibahas adalah fashion. Kuliah tamu ketiga telah dilaksanakan hari Rabu (07/07/21) melalui Zoom Meeting dengan dihadiri sedikitnya 40 peserta. Bertindak sebagai pemateri adalah Yuliana Fitri, S.E. selaku Owner dan Designer di Aruna Creative ID dan CV. Asti Reswara Nata, Yogyakarta.

Poster kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 07/07/2021

“Saya terlahir dari keluarga yang notabene tailor,” tutur Mbak Uli, demikian beliau akrab disapa. Mbak Uli pernah bekerja di bank setelah berkuliah di jurusan manajemen. Setelah itu, ia bersekolah fashion untuk meningkatkan pengetahuan, lalu memutuskan berwirausaha. Selain sebagai designer dan entrepreneur, aktivitasnya juga mengikuti exhibition baik di dalam maupun luar negeri. Spesifikasi usaha yang diangkat adalah ethnic fashion atau tekstil wastra nusantara, seperti tenun dan jumputan, termasuk ecoprint dan sustainable fashion. Lini usaha lain yang ditekuninya adalah sandal etnik, konveksi seragam, dan peralatan seminar.

Sebagai pengantar, fashion designer atau perancang busana merupakan seseorang yang ahli dan terampil dalam mendesain pakaian. Jika menyebut Indonesia, maka designer yang berkarir di Indonesia atau designer yang berkiprah di luar negeri menggunakan Wastra Indonesia dengan ciri khas masing-masing daerah. Mbak Uli  kemudian mengambil contoh dua sosok yang mungkin masih asing karena belum terlalu terekspos. Pertama adalah Harry Halim yang kini bermukim di Perancis. Kedua adalah Didiet Hediprasetyo yang merupakan putra dari Prabowo Soebianto. Karya-karya yang diangkat salah satunya kain glossy untuk batik cap (printing).

Pemaparan materi kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 07/07/2021

Sosok designer lain ada Ghea Pangabean yang mengangkat batik jumputan dan mendiang Ramly dengan support system yang selalu diingat Mbak Uli, bahwa menjadi designer tidak hanya membuat pakaian, tetapi harus tahu lebih banyak mulai dari serat, benang, dan hasil yang memiliki arti. Untuk perkembangan designer di Indonesia, arahnya ke industri fashion. Konsumen lebih memilih pakaian kasual yang nyaman. Merek pun berpengaruh, seperti merek lokal yang mendukung pemulihan ekonomi nasional, merek yang dapat bertanggung jawab secara sosial (sustainable fashion), dan merek inklusif yang dapat merangkul keragaman.

Saat ini kita berada di era digital, Dian Pelangi bisa dijadikan pembelajaran bahwa penggunaan media digital perlu dikencangkan. “Untuk entertainment market, melalui YouTube dan media sosial lainnya yang sekarang dikembangkan, namun kadang latah. Biasanya videonya sama seperti itu, tidak ada pembeda, ini sebenarnya masalah, jadi melatah antara produsen, penjual, dan designer,” catat Mbak Uli. Terkait masa pandemi sekarang, terdapat plus dan minus masing-masing. Ada yang mengajarkan saling menghargai, namun tak bisa dipungkiri laba usaha banyak yang jatuh. Ladang virtual memang berdampak, namun tak cukup signifikan.

Peserta kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 07/07/2021

Selanjutnya perkembangan designer dunia, designer di luar negeri dapat dikatakan lebih mapan dari segi manajemen keuangan. Baik tenaga kerja maupun pemodal sudah cukup besar, sehingga designer dapat lebih fokus pada koleksi busana dan tidak perlu pusing apabila terjadi penurunan pendapatan (income). Designer di luar negeri punya tim yang solid dan kompeten serta keuangan yang luar biasa. Hal ini membuat pandemi tidak begitu berpengaruh terhadap kreativitas designer luar negeri, sebaliknya cukup berpengaruh terhadap kreativitas designer dalam negeri. Kreativitas designer ini berpengaruh terhadap naiknya penjualan produk.

Berdasarkan fenomena yang terjadi, diperlukan prediksi atau yang disebut trend forecasting bagi pelaku industri dan akademisi, mencakup perkembangan pola pikir, teknologi, gaya hidup, dan faktor-faktor lain. Sebelum tahun 2018, designer Indonesia mengacu ke luar negeri, namun kini tidak lagi karena melalui Kementerian Pariwisata dan Indonesian Fashion Chamber (IFC). Untuk forecasting fashion design Indonesia 2021/2022 terkait Covid-19, terdapat empat tema, yaitu essentiality dan spirituality yang memperhatikan filosofi hidup dan menghargai kekayaan lokal, serta exploitation dan exploration yang memperhatikan aspek seni. (ASB)

Kuliah Tamu Kedua : Teknologi Komposit pada Industri Pesawat Terbang

Rekateks UII - Berita Terkini

Tak bisa dipungkiri bahwa kita sedang berada dalam dua fase disrupsi, yaitu Revolusi Industri 4.0 dan Pandemi Covid-19. Apa saja yang sebenarnya perlu dipersiapkan untuk menghadapi tantangan dunia kerja? Berangkat dari hal tersebut, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII mengadakan webinar dengan judul “Persiapkan Diri Menghadapi Dunia Kerja”. Acara yang diikuti sedikitnya 120 peserta ini berlangsung Sabtu (03/07/21) melalui Zoom Meeting dan YouTube Live Streaming. Bertindak sebagai narasumber adalah Yoski dan Galang Galih Gibran, keduanya alumni Prodi Rekayasa Tekstil UII yang saat ini berkarir profesional.

Webinar Ketiga Prodi Rekayasa Tekstil UII di Tahun 2021

“Saya bekerja di salah satu perusahaan Jepang dari tahun 2017 sampai sekarang, serta ada freelance project yang masih on-going,” kata Yoski mengawali ceritanya. Apa yang dicapainya saat ini tak lepas dari pengalaman sekolah, mulai dari S1 di Prodi Rekayasa Tekstil UII sampai memperoleh beasiswa S2 di Thailand dan Amerika Serikat dengan bidang ilmu polimer. Semasa kuliah tersebut, Yoski memiliki banyak pengalaman organisasi yang mengasah hard skill dan soft skill, dua kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dunia kerja. Sistem terkomputerisasi menurutnya adalah yang paling dirasakan cukup memudahkan pekerjaan.

Berdasarkan pengalamannya terkait hard skill, gelar sarjana masih dibutuhkan sebagai syarat kerja di Indonesia. Kemampuan berbahasa juga demikian, terutama diharuskan bisa berbahasa Inggris. “Yang saya rasakan, karena perusahaan Jepang, tapi saya tidak bisa berbahasa Jepang, maka akan berbeda salary-nya dengan yang bisa berbahasa Jepang,” lanjut Yoski. Kita pun wajib bisa mengoperasikan komputer dan beberapa software tertentu, serta paham digital marketing dan dasar-dasar internet seperti meeting daring. Kita wajib belajar entrepreneurship sebagai hal yang juga penting, agar bisa bertahan di berbagai macam kondisi dan perubahan situasi.

Penyampaian materi webinar oleh Yoski yang bekerja di Hanwa Co. Ltd.

Sementara itu terkait soft skill, untuk fresh graduate tidak boleh menyerah. “Karena lulusan ini, harus perusahaan ini; itu kita tidak boleh terlalu idealis, seandainya seperti itu kita akan ketinggalan,” pesan Yoski. Selama cocok, jalani saja dulu, sambil berjalan menyesuaikan. Lalu kita wajib belajar leadership, sebab diinginkan atau tidak, ada jenjang karir yang mengharuskan kita jadi pimpinan. Berikutnya kita harus bisa berkomunikasi dengan atasan dan bawahan, bisa public speaking supaya tidak jalan di tempat, dan bisa beradaptasi dengan kondisi kerja ataupun karakter orang. Sebagai pelengkap, Yoski berbagi tips dan trik sukses di Rekayasa Tekstil UII.

“Sekarang saya bekerja dan tinggal di Belanda, perusahaannya sendiri adalah tekstil kimia yang juga memiliki pabrik di China dan Thailand, serta menjual produk di Indonesia,” kata Galang sebagai pembicara selanjutnya. Apa yang dicapainya saat ini pun tak lepas dari pengalaman studi S1 di Prodi Rekayasa Tekstil UII selama tiga tahun dan memperoleh beasiswa double degree untuk belajar di Belanda selama satu tahun. Disrupsi yang terjadi menurutnya dapat dimaknai sebagai dua hal berbeda, yaitu apakah bisa menjadi challenge atau merupakan opportunity. Seperti siklus, setiap kali mengalami krisis, selalu ada perubahan besar yang perlu disikapi.

Penyampaian materi webinar oleh Galang yang bekerja di Tanatex Chemicals B.V.

“Dari pengalaman saya, kemampuan beradaptasi itu sangat diuji,” sambung Galang. Terlebih lagi, masalah terbesar ketika kita bekerja justru bukan dari menyelesaikan pekerjaan itu sendiri. Sebab apa yang dipelajari di kampus bisa diterapkan di dunia kerja, tetapi ada cultural difference seperti gap umur, perbedaan pola pikir, dan ethical culture, itu yang lebih dihadapi. Senada dengan Yoski, Galang bercerita bahwa peluang kerja belum tentu selalu sesuai dengan yang diinginkan sehingga kita perlu terbuka untuk mempelajari hal-hal baru serta beradaptasi. “Pada intinya, semua ilmu itu pasti berguna, tinggal bagaimana menerapkannya,” pesan Galang.

Keterampilan berbahasa juga diperlukan di dunia kerja. CEO di tempat Galang bekerja diganti dengan yang bisa berbahasa Mandarin karena Cina mulai menjadi pusat perekonomian dunia. Etika dalam bersosialisasi dan berkomunikasi juga diperlukan. Dalam era digital saat ini, bukan hanya etika tatap muka secara offline melainkan juga secara online seperti menulis profil diri, mengirim email/surel, dan melakukan conference call. Lantas, apa gunanya kuliah? Kuliah itu mengajarkan kita bagaimana caranya belajar, berpikir, dan bekerja. Seperti bagaimana kita menyelesaikan masalah, metodenya itu yang dipelajari, bukan ilmu pastinya. (ASB)

Rekateks UII - Berita Terkini Event

Setelah kuliah tamu pertama pada bulan Maret 2021, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII kembali menyelenggarakan kuliah tamu kedua pada bulan Juni 2021. Topik yang dibawakan kali ini seputar perkembangan teknologi komposit serat aeronautika. Kuliah tamu kedua telah dilaksanakan hari Sabtu (19/06/21) melalui Zoom Meeting dan juga YouTube Live Streaming dengan dihadiri sedikitnya 150 peserta yang merupakan mahasiswa, dosen, dan dari masyarakat umum. Bertindak sebagai pemateri adalah Ir. Handoko Subawi, M.T. selaku Manager Manufacturing Development di PT. Dirgantara Indonesia dengan 25 tahun pengalaman profesional.

Poster kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 19/06/2021

“Sebagai pemahaman mendasar, material komposit dibuat lebih dari satu bahan penyusun, sifat kimia berbeda, ketika digabungkan menghasilkan jenis material baru yang berbeda namun sifat dari bahan-bahan pembentuknya masih bisa ditelusur,” kata Pak Handoko mengawali pemaparannya. Komposit ada yang sudah terbentuk secara alami sebagai karunia Allah dan ada pula rekayasa manusia untuk meniru atau mensintesis dengan harapan dapat memperbaiki sifat fisik, mekanik, elektrik, dan lain-lain sehingga lebih baik lagi. Pada prinsipnya, komposit tersusun dari dua komponen dasar, yaitu reinforcement (penguat) dan matrix (pengikat).

Untuk penguat, bisa berupa serat, logam, dan keramik. Sementara untuk matrix, bisa berupa polimer, logam, juga keramik. Komposit dengan matrix polimer dibedakan menjadi struktur primer misalnya badan pesawat terbang dan struktur sekunder misalnya bagian kendali seperti radar dan aileron. Kemudian komposit dengan matrix logam, digunakan untuk pesawat tempur dan komponen satelit, yang perlu suhu dan kecepatan lebih tinggi daripada penggunaan komersial. Lalu komposit dengan matrix keramik, digunakan pada pesawat luar angkasa. “Indonesia belum masuk ke sini, tapi ilmunya bisa dikuasai anak bangsa,” lanjut Pak Handoko.

Pemaparan materi kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 19/06/2021

Industri pesawat terbang di dunia dikuasai dua kubu besar. Pertama, di Eropa ada Airbus. Kedua di Amerika Serikat namanya Boeing. Komposit serat sudah digunakan oleh pesawat terbang sejak tahun 1970an pada tipe A300 hingga tahun 2000an pada tipe A380. Yang sedang ramai sekarang adalah Airbus A350 dimana komponen kompositnya semakin dominan. “Bagaimana dengan kita?” tanya Pak Handoko. Alumnus dari Institut Teknologi Bandung ini menerangkan bahwa PT. Dirgantara Indonesia sudah memproduksi CN295 yang merupakan kelanjutan dari CN235. Kompositnya antara lain terdapat di bagian kontrol permukaan, radar, dan aileron.

Pada pesawat terbang, polimer yang digunakan bukan termoplastik, melainkan termoset. Serat yang digunakan antara lain serat karbon (polyacrylonitrile), aramid (polyamide), dan serat gelas. Ada satu lagi namanya serat polyimide, namun belum digunakan untuk pesawat komersial, baru untuk pesawat tempur. Dalam garis besar prosesnya, serat karbon dipintal menjadi benang, lalu dibalur dengan resin basah, dan dikeringkan dengan suhu tinggi. “Dunia mulai berpikir pada efisiensi sumber daya dan konservasi lingkungan, sehingga tren ke depan menggunakan teknologi hemat energi dan ramah lingkungan,” demikian catatan dari Pak Handoko.

Peserta kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 19/06/2021

Ada dua tahap utama dalam membuat komponen pesawat terbang, yaitu laminasi (penumpukan) dan curing (pemanasan). Laminasi ada yang menggunakan cetakan tertutup dan cetakan terbuka, teknologinya disebut fiber placement, tape laying, dan resin infusion. Laminasi ini dilakukan dengan mesin otomatis dimana teknologinya berasal dari Eropa. “Terus pertanyaannya bagi mahasiswa, saya di UII bisa nggak belajar sampai (Eropa) sini?” lanjut Pak Handoko. Beliau menjawab, bisa. Sebab nanti ada program pelatihan terlebih dahulu dari PT. Dirgantara Indonesia sebelum bekerja, baik engineer maupun teknisi, bisa dikirim ke Madrid, Milan, dan lain-lain.

Berikutnya curing, ada yang menggunakan autoclave system dan bukan autoclave. Autoclave ini sejenis kapsul besar, seukuran dua lapangan sepak bola kalau di PT. Dirgantara Indonesia. Untuk yang bukan autoclave, teknologinya disebut oven system, hot forming, hot bonder, routing-drilling, dan robotic drilling system. Semua merupakan produk atau teknologi internasional sehingga orang-orang yang bekerja di industri pesawat terbang bisa dikirim untuk mengikuti pelatihan di luar negeri. “Pesan implisitnya bagi adik-adik mahasiswa, di luar kesibukan kuliah, jangan lupa. Satu, ngaji, ini penting. Dua, komunikasi Bahasa Inggris,” pesan Pak Handoko. (ASB)

Kuliah Tamu Pertama : Peran Nanoteknologi pada Bidang Tekstil

Rekateks UII - Berita Terkini

Berdasarkan hasil sebuah riset, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan untuk mendapatkan lulusan perguruan tinggi siap pakai. Apakah kuliah dan bekerja, keduanya bisa sejalan? Untuk membahasnya, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII mengadakan webinar dengan judul “Strategi Memilih Jurusan Kuliah yang Ideal.” Acara yang diikuti sedikitnya 80 peserta ini berlangsung Sabtu (10/04/21) melalui Zoom Meeting dan YouTube Live Streaming. Bertindak sebagai narasumber adalah Ratna Syifa’a Rachmahana selaku Dosen Prodi Psikologi FPISB UII dan Ahmad Satria Budiman selaku Dosen Prodi Rekayasa Tekstil FTI UII.

Webinar Kedua Prodi Rekayasa Tekstil UII di Tahun 2021

Sebagai pengantar, Ibu Ratna menyampaikan bahwa kuliah itu tidak seperti kita beli baju yang kalau ternyata kekecilan mungkin bisa dikasih ke orang atau kalau kebesaran bisa dijahit untuk dikecilkan sesuai tubuh kita. Kuliah tidak seperti itu, kuliah membutuhkan usaha yang membuat kita harus hati-hati dan teliti. Kita akan membutuhkan waktu dan biaya tidak sedikit, uang bisa dicari, tapi waktu tidak pernah bisa kembali. Oleh karena itu, penting sekali untuk mempertimbangkan dengan baik ke mana akan melangkah setelah lulus SMA/SMK/MA.

Kita biasanya memiliki dua pilihan, mau kerja atau kuliah. Dua-duanya tidak ringan. Pertama, mengapa harus kerja, mengapa harus kuliah. Kedua, di mana kita mau kerja, di mana kita mau kuliah. Kemudian yang ketiga, bagaimana kita kerja, bagaimana kita kuliah. “Apakah kita tertarik untuk mengambil program studi yang cepat lulus, atau tertarik untuk jadi ilmuwan ambil S1, S2, dan seterusnya,” kata Ibu Ratna. Ketiga pertanyaan besar tersebut perlu dijawab terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan dan bisa dibantu penyelesaiannya dengan analisis SWOT.

Penyampaian materi webinar oleh Ratna Syifa’a Rachmahana, Dosen Psikologi FPISB UII

Analisis dimulai dari strength (S)/kekuatan dan weakness (W)/kelemahan. Di sini, keduanya merupakan bagian internal dari diri kita, sehingga kita mulai dengan mengkaji dari dalam diri. Untuk kekuatan, kita bisa melihat hal-hal positif dalam diri, seperti mata pelajaran favorit dan prestasi akademik maupun non-akademik. Berikutnya untuk kelemahan, kita bisa melihat dari hal-hal yang kurang disukai dan prestasi terendah meski sudah berusaha maksimal. “Kita sudah belajar biologi mati-matian, tapi kok nilainya paling banter 7, di matematika nggak terlalu niat gampang dapat 8, jadi kita ambil jurusan yang tidak banyak biologi,” terang Ibu Ratna.

Kemudian berlanjut ke opportunities (O)/peluang dan threats (T)/hambatan. Jurusan kuliah dapat dipilih berdasarkan peluang, antara lain kampus-kampus yang terbaik. Idealnya dengan melihat profil jurusan, alumni, fasilitas, dan peluang kerja setelah lulus. Sementara hambatan untuk memilih jurusan, antara lain biaya kuliah seperti ada beasiswa atau tidak, serta persaingan masuk. Semakin favorit, biasanya semakin kecil peluang, tapi sebetulnya hambatan bukan untuk dihindari, melainkan untuk diatasi. Pada akhirnya setelah ada keputusan jurusan, tiga hal yang perlu dilakukan adalah niat yang tepat, komitmen yang kuat, dan usaha yang hebat.

Penyampaian materi webinar oleh Ahmad Satria Budiman, Dosen Rekateks FTI UII

Tidak jauh berbeda dengan analisis SWOT, Pak Budi mengemukakan bahwa memilih jurusan kuliah dapat dilakukan dengan mengenal diri sendiri. Kita tanyakan terlebih dahulu “apa yang saya mau dan apa yang saya bisa” pada diri sendiri, setelah itu kita bisa menentukan minat dan bakat kita ada di mana. Pertimbangan peluang masa depan juga penting, seperti arah karir, capaian kerja, relasi sosial, dan pola hidup, terkait dengan apa yang dilakukan setelah lulus dari jurusan tersebut. Jurusan kuliah bisa ditentukan melalui diskusi dengan teman, guru, atau kerabat, tes psikologi (psikotes), dan tes sidik jari, dengan plus minus masing-masing.

“Pada akhirnya, di mana pun kuliah tidak jauh berbeda karena kita hanya perlu tekun dan teguh menjalaninya, kuliah hanya gerbang awal, setelah itu ada proses-proses hidup lain yang akan dihadapi,” sambung Pak Budi. Narasumber kedua ini juga berbagi pengalaman tentang kegagalannya mengikuti SNMPTN, “Itu sama seperti UTBK kalau sekarang. Saya maksimalkan seluruh kesempatan yang ada saat itu selama tiga tahun untuk ikut SNMPTN, namun tidak ada yang lolos.” Ketika gagal, bukan berarti kita bodoh, kesempatan kita disediakan Allah di tempat lain. Kita perlu mengubah kegagalan jadi peluang, antara lain kejar alternatif selain PTN. (ASB)

Rekateks UII - Berita Terkini Event

Untuk menambah wawasan dari luar ruang perkuliahan, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII menyelenggarakan kuliah tamu setiap semester. Kuliah tamu ini diisi oleh akademisi dan praktisi dari luar kampus, serta terbuka untuk umum, dalam arti tidak terbatas pada sivitas akademika UII yang dapat mengikutinya. Pada semester genap 2020/2021, kuliah tamu pertama telah dilaksanakan hari Kamis (18/03/2021) melalui Zoom Meeting. Bertindak sebagai pemateri adalah Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng., Ph.D. selaku Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI yang juga merupakan pakar nanoteknologi dengan 15 paten.

Poster kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 18/03/2021

“Semua makhluk hidup, walau bahan bakunya sama, namun strukturnya berbeda,” kata Prof. Nurul mengawali pemaparannya. Dalam struktur tersebut, perbedaan susunan dan jumlah zat yang ada dapat mempengaruhi sifat suatu benda atau karakter makhluk hidup. Seperti misalnya daun lotus (bunga teratai), dalam skala mikroskopik yang teramat kecil, terlihat semacam gerigi di permukaan daun yang menjadi jawaban mengapa air tidak dapat membasahi daun lotus. Fenomena ini dijadikan konsep dasar merancang produk, contohnya sarung tangan anti air.

Sejauh ini, nanoteknologi telah diaplikasikan Prof. Nurul dan rekan-rekannya dalam bidang pangan, kosmetik, dan material. Nanoteknologi telah berhasil meningkatkan nilai tambah suatu produk. Jika kunyit yang dijual di pasar tradisional atau pasar swalayan, kisaran harganya ribuan, maka dengan nanoteknologi, kisaran harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Contoh lainnya, pasir besi. Dengan nanoteknologi, harga jualnya juga bertambah dari ribuan hingga jutaan. “Tapi biar saya saja yang jualan seperti ini, nanti kalau Anda ikut, saya rugi,” seloroh Prof. Nurul.

Pemaparan materi kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 18/03/2021

Terkait aplikasi nanoteknologi di bidang tekstil, Prof. Nurul mengemukakan bahwa potensi yang ada cukup menjanjikan bagi Indonesia. Pertama, bisa diterapkan pada kaos kaki anti air. Hal ini salah satunya bertujuan agar kita tidak perlu repot melepas dan memasang kaos kaki saat berwudhu hendak melaksanakan shalat. Kedua, bisa diterapkan pada pakaian tolak air. Hal ini salah satunya mengingat Indonesia sebagai negara beriklim tropis dengan curah hujan cukup tinggi, sehingga untuk memudahkan mobilitas masyarakat jika dalam kondisi hujan deras.

“Selanjutnya, sinar matahari di negara kita cukup terik, nanoteknologi bisa digunakan untuk anti ultraviolet,” terang Prof. Nurul. Terkait pandemi Covid-19, lulusan Kagoshima University, Jepang, ini menambahkan jika nanoteknologi juga bisa diterapkan sebagai nanofilter pada bahan masker. Tak kalah penting, nanoteknologi bisa diterapkan pada powder technology untuk zat warna. “Jadi kalau hasil pewarnaan tekstil kurang terang, nanoteknologi bisa membuat ukuran zat warna lebih kecil dan lebih halus, sehingga warnanya bisa lebih tajam,” lanjut Prof. Nurul.

Peserta kuliah tamu Prodi Rekayasa Tekstil UII 18/03/2021

Terkait zat warna tadi, nanoteknologi pun bisa dikembangkan untuk material pewarna alami. Selain tidak berbahaya bagi lingkungan jika dibandingkan pewarna sintetis, potensi kekayaan alam di Indonesia juga luar biasa untuk pewarna alami. Nanoteknologi memiliki prospek bisnis yang menjanjikan dengan nilai market kurang lebih 14,8 triliun US Dollar atau sekitar 200 triliun Rupiah. Sampai hari ini, industri pengelola bahan baku yang menjadi pemain di kancah global didominasi oleh negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan di Asia ada Jepang dan Korea.

Lantas, bagaimana langkah pengembangan nanoteknologi? Selain tentunya meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan, langkah pengembangan dapat dimulai dengan menentukan terlebih dahulu jenis bahan baku apa yang akan dimanfaatkan, kemudian melakukan analisa atau karakterisasi untuk mengetahui sifat-sifat yang dihasilkan dari produk dengan bahan baku tersebut, baru setelahnya merencanakan untuk melakukan proses produksi secara bertahap. (ASB)

Rekateks UII - Berita Terkini

Tak jarang saat ingin berwirausaha, sebagian kita bingung memulainya dari mana. Sebagai pelajar dan mahasiswa, tak sedikit yang khawatir pendidikan nantinya keteteran. Ada pula yang ragu, bisakah bisnis dan kuliah jalan bersamaan? Untuk membahasnya, Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil UII mengadakan webinar dengan judul “Bisnis Generasi Milenial, Kuliah Tetap Berprestasi.” Acara yang diikuti sedikitnya 100 peserta ini berlangsung Sabtu (13/03/21) melalui Zoom Meeting dan YouTube Live Streaming. Bertindak sebagai narasumber adalah Diajeng Lestari selaku CEO Hijup dan Rosa Akhirunnisa selaku Creative Director Acuan Kreatif.

Webinar Pertama Prodi Rekayasa Tekstil UII di Tahun 2021

Mengawali perbincangan, Diajeng Lestari bercerita bahwa tahun 2016 saat Hijup mengikuti London Fashion Week, ia bertemu salah seorang mahasiswa dari jurusan future textile. “Saya berpikir, kok di Indonesia nggak ada ya. Alhamdulillah sekarang sudah ada di Indonesia ini Rekayasa Tekstil UII,” kata Diajeng. Harapannya, prodi ini bisa menjadi pionir untuk menemukan bahan-bahan baru karena kekayaan alam Indonesia yang luar biasa. Dengan berkembangnya sustainable fashion, bahan-bahan yang ramah lingkungan merupakan peluang riset yang menjanjikan.

Berikutnya disampaikan bahwa konsep bisnis Hijup adalah menyediakan platform untuk menjembatani fashion designer dan customer. Strategi yang banyak digunakan adalah media sosial karena modalnya tidak terlalu besar. Diajeng Lestari memulai usaha ketika usianya 25 tahun. Lalu apa saja formulanya untuk jadi seorang entrepreneur? Pertama, jujur. Pada saat itu banyak anggapan bahwa perempuan berhijab itu terkesan kuno, tidak fashionable, dan tidak berpenampilan menarik. Diajeng punya misi, kalau ada make-up, kenapa tidak hijab-up.

Penyampaian materi webinar oleh Diajeng Lestari, CEO Hijup

“Kita ingat hadits Rasulullah Saw bahwa segala sesuatu tergantung niat. Temukan dulu why-nya, kita suka atau nggak,” terang Diajeng. Kedua, inovatif, yaitu mencari nilai baru dari suatu hal yang sudah ada, seperti memindahkan belanja offline ke belanja online. Kemudian ketiga, lakukan saja. Sebab kita butuh pengalaman, dari situ bisa mendapat banyak pelajaran. Keempat, unik, yaitu berbeda dari yang lain, seperti hijab yang hanya disediakan untuk busana muslimah. Kelima, berdoa. “Kita meminta petunjuk dari Allah bahwa apa yang dilakukan sebagai bentuk syukur untuk bisa beribadah dan memanfaatkan potensi dari-Nya,” lanjut Diajeng.

Senada dengan hal tersebut, Rosa Akhirunnisa mengemukakan bahwa dalam berwirausaha yang terpenting adalah memulainya dari niat dalam diri sendiri. Daripada bingung memikirkan modal, menyusun proposal bisnis itu seperti apa, mencari investor bisnis itu bagaimana, dan mempertanyakan bisakah nanti lulus tepat waktu dengan IPK bagus atau tidak, yang terpenting adalah niat itu sudah ada atau belum. “Ketika memulai sesuatu, shalat dari niatnya. Ketika niat itu sudah ada dan sudah benar, insya Allah nanti ada jalannya,” tutur Rosa. Saat mulai berbisnis dulu, ia mengaku ingin belajar dan punya penghasilan tambahan.

Penyampaian materi webinar oleh Rosa Akhirunnisa, Creative Director Acuan Kreatif

“Mbak Diajeng memulai dari ruangan 3 x 3 meter persegi bersama tiga orang, dulu saya pun juga begitu, memulai dengan satu orang teman saya,” cerita Rosa. Semua pasti dimulai dari nol, sehingga kita tidak perlu berkecil hati saat memulai, yang terpenting seberapa besar niat itu ada untuk merealisasikan mimpi-mimpi. Rosa sewaktu SD berjualan kertas binder, smartphone saat itu belum tren. Ia dan teman-teman senang mengisi biodata di kertas binder, hal ini pun dilihat sebagai peluang. Rosa memulai bisnis fashion dengan menjadi reseller atau dropshipper.

Sembari berwirausaha, semasa kuliah dulu di satu sisi Rosa perlu menjaga IPK untuk tetap mempertahankan beasiswa. Mahasiswi yang kuliah dengan beasiswa penuh ini menjadi asisten dosen untuk menambah pengalaman, mengikuti kepanitiaan untuk menambah relasi, mengikuti organisasi untuk tahu cara mengelola komunitas, serta mengikuti student exchange dan PIMNAS. “Kembali lagi ke niatnya. Kalau ada keluhan ‘yah capek mbak, mau mikirin jualan nggak sempet’, tapi kalo niat banget, perasaan capek itu akan hilang dengan sendirinya,” pesan Rosa.

Dalam menyikapi kegagalan salah seorang peserta webinar yang mengajukan pertanyaan, Rosa berbagi tips untuk mengubah cara pandang, “Kegagalan itu jangan dilihat angkanya, ‘oh dua kali sudah banyak’, jangan. Kita melihat polanya begini, ‘oh aku dua kali diberi kesempatan belajar sama Allah, dari yang pertama aku gagal karena…, dari yang kedua aku gagal disebabkan…, nah solusinya adalah …’.” Kalau tekun, konsisten, dan fokus, nanti hasilnya akan mengikuti. Jangan pernah berhenti karena siapa tahu satu sentimeter lagi sudah keberhasilan. (ASB)

Rekateks UII - Berita Terkini

Pada tahun 1950-60an, mobil dan kendaraan bermotor lainnya terbuat dari besi. Seiring berjalannya waktu, industri otomotif mencari alternatif pengganti logam untuk mendapatkan karakter material lebih ringan namun tetap kuat, sebab material logam yang lebih berat berdampak pada konsumsi bahan bakar yang lebih banyak. “Sekarang banyak dikembangkan, seperti di BMW dan Mercedes, bodi mobil berbahan fibre, lebih ringan tapi tetap kuat, otomatis mengurangi konsumsi bahan bakar, sehingga lebih irit,” tutur Ir. Pratikno Hidayat, M.Sc. dalam program Techno Talk di Unisi Radio 104.5 FM. Dalam program yang mengudara Kamis malam (25/02/2021), Bapak Pratikno menjelaskan berbagai hal seputar tekstil komposit.

Seperti apa itu? Berikut ulasan selengkapnya.

Apa sih, Pak, tekstil komposit itu?

Jadi sebetulnya tekstil komposit itu spesifik untuk tekstil. Kalau komposit itu sendiri didefinisikan sebagai rekayasa (engineering) dari dua bahan atau material berbeda, kemudian dijadikan satu menjadi material baru, dimana karakteristiknya merupakan gabungan sifat dari bahan penyusunnya itu. Dua material atau lebih dijadikan satu sehingga menjadi material baru, itulah komposit.

Menggabungkan beberapa hal menjadi sesuatu yang baru?

Betul, contohnya triplek/plywood, lalu ban mobil juga. Triplek itu tersusun dari dua komponen, yaitu kayu (serbuk kayu) dan lem yang susunannya bisa dibolak-balik. Ban mobil tersusun dari karet, kawat, dan kain.

Berarti tujuannya untuk mempermudah?

Betul, sejarahnya dulu itu tahun 1950-60an, orang mencari alternatif bahan yang diinginkan, untuk memperbaiki sifat mekanik atau sifat fisik tertentu, seperti tahan api, tahan korosi, tahan benturan, ringan, kemudian juga untuk mempermudah desain yang sulit dibuat di pabrik. Komposit mulai dikenal 1500 tahun sebelum masehi, seperti di Mesir atau Bangsa Mesopotamia. Itu masyarakatnya membuat rumah dari dua komponen, yaitu lumpur dan tanah jerami. Lalu di Bangsa Mongol, mereka membuat bom lempar tapi belum pakai mesiu, pakai kayu dan lem dari (lemak) binatang atau pohon, sehingga menjadi bola untuk perang zaman dulu, itu sekitar 1200 tahun sesudah masehi.

Asal-usul komposit seperti apa?

Orang mengenal komposit dari dua hal. Pertama, yang sifatnya natural (alam), bahwa komposit memang tercipta dari alam. Contohnya pohon, itu tersusun dari serat selulosa dan ada lem pengikatnya yang dinamakan lignin. Kemudian batuan, di situ lapisannya tersusun dari sejumlah batuan. Lalu batu akik, itu juga ada serat-seratnya. Masih ada lagi bulu burung, gigi manusia, tulang, dan lain sebagainya.

Kedua, yang sifatnya sintetik (buatan), ada yang dibuat manusia, bisa dalam skala rumahan atau skala industri. Untuk skala rumahan, misalnya membuat bumper mobil dan modifikasi sepeda motor. Kalau industri, lebih luas lagi, misalnya pada pesawat terbang dan perosotan water boom, itu semua dari komposit.

Untuk proses pembuatan komposit, lebih rumit atau lebih mudah, Pak?

Tadi dikatakan di awal, definisi komposit adalah dua atau lebih material berbeda dijadikan satu menjadi material baru yang sifatnya tersusun dari gabungan sifat material penyusunnya. Jadi kalau dilihat dari tahapnya ada dua hal atau dua fase. Fase pertama, sebagai perekat/pengikat, yaitu matrix. Fase ini merupakan fase utama dan fraksi terbesar suatu komposit. Sebagai gambaran, kalau dalam konstruksi beton, contohnya semen. Kalau makanan seperti ampyang yang banyak dijajakan di daerah Kaliurang, gulanya itu sebagai matrix.

Fase kedua, sebagai penguat/pengisi, yaitu reinforcing agent atau disebut juga reinforcement, berfungsi sebagai penanggung beban kalau material itu mendapat tarikan, tekanan, dan sebagainya. Kalau dalam konstruksi beton, contohnya besi, pasir, kerikil. Fase kedua ini ditanamkan di fase pertama, jadi besi, pasir, dan kerikil, ditanamkan di dalam semen. Kalau ampyang tadi, kacangnya itu reinforcement, bisa diketahui di sini matrix itu lebih dominan dalam struktur penyusun komposit.

Kemudian ada fase lain sebagai aksesoris, disebutnya filler. Sifatnya ini sebagai pelengkap, misalnya supaya lebih murah. Contohnya hard board dari kayu, biasanya ditambahkan serbuk kulit kacang, serbuk bambu, supaya lebih ekonomis. Bisa juga komposit itu ditambahkan aditif berupa pewarna supaya lebih baik tampilannya, dan lain-lain. Akan tetapi, yang terpenting adalah matrix dan reinforcement.

Saya baca-baca, matrix ada banyak klasifikasinya?

Ada tiga yang umum digunakan. Pertama dari polimer (polymer matrix composite). Kedua dari logam (metal matrix composite). Kemudian ketiga dari keramik (ceramic matrix composite). Dalam hal ini, saya beri contoh untuk keramik biasanya digunakan untuk combustion, misalnya dapur untuk pengecoran logam. Contoh lain pada frame sepeda, di situ matrix-nya logam dan reinforcing agent atau penguatnya dari karbon. Polimer paling banyak digunakan.

Polimer bisa ditemukan pada jas hujan, kantong kresek, bumper mobil, tandon penampung air, dan lain-lain. Mengapa paling banyak digunakan, sebab kuat, mudah dibentuk, dan lebih murah. Polimer sendiri ada dua, yaitu termoplastik yang bisa dilunakkan berkali-kali atau bisa di-recycle. Jadi kalau sudah dibuat menjadi produk, dibentuk lagi masih bisa, contohnya polyester dan nylon. Lalu satu lagi termoset, ini kalau sudah digunakan, kaku dan (mudah) pecah, tidak bisa dibentuk lagi, contohnya epoksi. Epoksi digunakan pada bumper mobil, keras, kuat, tapi kalau sudah rusak tidak bisa digunakan lagi. Dilelehkan tidak bisa lagi.

Oh begitu, kalau reinforcement?

Fase kedua ini ada yang sifatnya seperti partikel, fibre, dan struktur. Kalau partikel, ada yang besar (batu kerikil) dan ada yang kecil (pasir). Fibre ada yang lurus, panjang, dan kontinu; ada yang tidak panjang, serat pendek. Ada yang line, ada yang random, ini terkait susunannya dalam komposit, misalnya line itu disejajarkan, bisa juga dalam bentuk random, acak atau disebar merata dalam struktur komposit. Kalau struktur, itu dalam bentuk lembaran kain atau yang sudah menjadi bentuk struktur. Contoh penggunaannya pada bumper mobil, biasanya kombinasi antara line dan random, serat gelas disebarkan merata lalu diberi epoksi. Pipa minyak juga demikian, jadi tidak lagi menggunakan logam, tapi menggunakan komposit.

Inovasi yang sangat berguna ya Pak, dari biaya lebih murah, penggunaan tidak kalah jauh dengan material yang sudah ada sebelumnya?

Tentu, contoh lagi kapal-kapal nelayan di Pantai Baron atau Pantai Depok, sebagian besar tidak lagi menggunakan kayu, tetapi komposit. Kayu harganya mahal, perlu diangkut dulu, relatif lebih sulit diproses, kalau kualitas kayu kurang baik maka kapal akan cepat rusak, sehingga lebih praktis pakai komposit dari kain dan epoksi, jadilah kapal. Begitulah manfaat Rekayasa Tekstil.

Demikian semoga bermanfaat, sampai jumpa di Techno Talk berikutnya. (ASB)